my pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label PMII Komisariat Dukuhwaluh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PMII Komisariat Dukuhwaluh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

Organisasi dan mahasiswa



            Organisasi merupakan sekumpulan orang yang berusaha mencapai  tujuan, visi, dan misi yang  dilaksanakan secara terencana dan terstruktur. Orang-orang yang berada didalam organisasi disebut  pelaku organisasi atau yang dikenal sebagai organisatoris yang mana berasal dari berbagai latar belakang seperti pemerintah, guru, kaum buruh, bahkan mahasiswa yang memiliki kepentingan tertentu.
            Khusus organisasi yang dijalankan oleh mahasiswa, ada yang berbentuk  organisasi kemahasiswaan yang bergerak dilingkungan kampus maupun diluar kampus. Menyoroti organisasi yang bergerak di wilayah kampus, akhir-akhir ini mahasiswa yang seharusnya mampu menjadi organisatoris tersebut perlahan  mulai menjauhi aktivitas keorganisasian. Mereka saat ini telah  menjadi mahasiswa kopasus ( anak kos, pacar dan kampus). Mereka menganggap organisasi menjadi momok bagi mereka karena dapat mengganggu aktivitas perkuliahan. Bahkan ada yang menganggap merenggut kebebasan mereka karena terjebak pada aturan organisasi-organisasi yang berlaku.

Menghayati Istighfar


Alldi Alfian
            Istighfar artinya mohon ampun. Dengan kata lain, istighfar merupakan salah satu cara untuk memohon ampunan dari-Nya. Istighfar menjadi bagian dalam upaya hamba-Nya bertaubat atas segala kesalahan yang diperbuat olehnya. Sebab itulah, Rasulullah saw memperingatkan kita dalam sabda-Nya:
قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏كل ابن ‏ ‏آدم ‏ ‏ خطاء فخير الخطائين التوابون

"Setiap anak Adam itu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan itu adalah mereka yang bertaubat". (Hadith Riwayat Imam Ahmad di dalam musnadnya).
            Tanpa istighfar, setiap individu muslim akan senantiasa dalam kegundahan dan keresahan karena dibayangi oleh perasaan bersalah atau berdosa. Seseorang yang hidupnya tidak pernah terlintas untuk bermunajat bertaubat dan beristighfar kepada Allah, maka tiadalah kelebihan hidupnya melainkan kehidupannya hanyalah sia-sia.
            Terkadang kita tak sadar telah melakukan banyak dosa dalam kehidupan kita yang disengaja maupun tidak disengaja dilakukan. Entah itu dosa besar atau kecil, tampak ataupun samar. Kadang mata kita, kaki kita, tangan kita, mulut kita, telinga kita, bahkan perasaan atau hati kita belum dapat istiqomah di jalan-Nya.
            Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk selalu beristighfar kepada-Nya agar Allah menerima taubat kita. Allah akan senang bila hamba-Nya selalu memanjatkan doa dan istighfar kepada-Nya.
            Firman Allah di dalam surah Al-A'raf ayat 96 yang artinya:
“Dan (Tuhan berfirman lagi): sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertaqwa, tentulah Kami akan membuka kepada mereka (pintu pengurniaan) yang melimpah-limpah berkatnya, dari langit dan bumi. tetapi mereka mendustakan (Rasul kami), lalu Kami timpakan mereka dengan azab siksa disebabkan apa yang mereka telah usahakan”.

Hakekat Organisasi

by : alfian ikhsan


Organisasi, sebuah kata yang sering kita dengar ketika mengikuti kegiatan ospek di kampus. Dari panitia sampai pembicara pasti menyinggung agar para mahasiswa mengikuti organisasi. Mereka mengatakan bahwa organisasi adalah wadah untuk menggali pengetahuan yang lebih luas dan untuk meningkatkan keterampilan kita dalam bertindak mengatasi berbagai permasalahan.
Apa yang dikatakan mereka memang benar, tapi hal ini tidak berpengaruh terhadap sebagian besar mahasiswa. Realita yang terjadi sekarang adalah mayoritas mahasiswa lebih menyukai kegiatan bersenda gurau dan senang-senang yang membuang waktu. Mereka terjebak dalam arus modernisme yang mendorong para pemuda untuk berperilaku hedonis. Ketika mahasiswa sudah terbawa arus hedonis maka mereka tidak akan peka terhadap keadaan sekitar, lebih parahnya mereka tidak peduli juga terhadap kegiatan akademik.
Beberapa mahasiswa ada yang lebih baik, yaitu dengan berkonsentrasi dalam bidang akademis dan setiap harinya habis untuk mengkaji materi yang mereka dapatkan di ruang kuliah. Tapi apakah ini cukup untuk bekal mereka menghadapi hidup setelah masa kuliah yang pasti begitu kompleks dan tidak cukup dihadapi hanya dengan kemampuan akademik.
Melihat dua fenomena di atas, tentunya kita harus berfikir ulang tentang perjalanan kuliah kita. Apakah kita termasuk mahasiswa hedonis atau akademis. Apapun itu, pastinya kita belum mampu menjawab tantangan di masa depan yang menuntut kita untuk menguasai berbagai aspek pengetahuan dan bertindak inovatif untuk membawa perubahan.


Dalam Tualang Pasir


By Taufan Hidayat

“Mereka bilang kita ini terdiri dari irisan-irisan yang berbilang banyak. Semua adalah bagian dari kita yang saling menyatu dalam diri kita,” kata Gelung, sembari memandang lekat wajah Ling.
“Ah, para Darwis itu memang pandai bertingkah selayak filsuf. Padahal mereka hanya sang pembual sejati yang berjubah sufi,” sahut Ling sinis.
“Tapi aku sedikit setuju dengan mereka,” ucap Gelung lirih.
“Apa yang mereka perbuat denganmu, mengapa sekarang kau memercayai mereka?,” tandas Ling, dengan mata tajam yang kian menyudutkan Gelung.
Dengan wajah menunduk, bibir dan kelulit pipi memucat, beserta debu pasir yang beterbangan bersama angin barat. Berkatalah Gelung, juga seolah berbisik sebab suaranya lirih dan gamang. “Ah, tidak! Mereka sedikit benar, tapi juga sedikit salah… jadi…”.
“Hay, apa maksudmu? Jangan bertela-tele dan cengeng. Atau kau ingin menjadi kawanan mereka yang berbalik dengan pengkhianatan yang mengalung di leher-leher mereka?” bentak Ling, dengan wajah memerah bara beraurakan marah. Sebab teman satu-satunya di tualang pasir ini mulai menyemerbakan aroma pengkhianatan.
Gelung memberanikan diri mengangkat wajah dan berbalik membalas tatapan Ling. “Ling, tahukah kau akan sesuatu dalam dirimu? Dalam dasar dirimu itu berhuni sang penguasa atas dirimu. Penguasan itu adalah kau yang ego, kau yang rakus, kau yang berbirahi, kau yang serakah. Kesemuanya terbingkai oleh nafsu dalam dirimu. Sedang jiwa suci yang Tuhan berbisik padamu engkau belenggu. Lantas kau tenggelamkan dalam ngarai gelap tak bercahaya yang engkaupun gamang berdiri di atasnya. Itulah kau sahabatku!”.


Mata Ling terbeliak hilang kejap. Bibir memati beserta lidah yang hilang kata. Mematung selayak bebatuan tebing yang hilang asa. Ling belum sempat berbalik menyerang Gelung dengan tetuah yang begitu menusuk jantung Ling. Namun Gelung kembali menghujam Ling dengan tetuah yang selama ini Ling nafikan.
“Lihatlah ujung timur, ujung barat, ujung selatan juga utara!” tandas Gelung sembari menunjuk bergantian ke empat penjuru mata angin. Yang kesemuanya adalah hamparan padang pasir tiada tepi. Hanyalah fatamorgana bening yang menyala-nyala di atas pasir yang membatasi pandang mereka. “Sekali lagi lihat! Sadarkah kau bahwa kita ini tersesat. Sedang peta dan kompas tak kita miliki! Beritahu aku jalan menuju pulang dan keluar dari padang pasir panas membakar ini jika kau benar!”.
Ling tetap membisu, sedang pandangan beserta wajahnya telah menunduk berkalang tanah. Membumi yang paling membumi, itu wajah di dirinya.
“Ya, pastilah kau tiada mampu menjawab. Sebab egomu terpecundangi. Sahabatku, aku masihlah Gelung yang paling engkau kenal, yang juga sahabatmu. Hanya saja telah kutemukan jiwa mata hatiku. Intuisiku yang dengan inilah Tuhan berbicara padaku” kata Gelung dengan jemari yang meraih pergelangan tangan Ling.
“Ah, tenang saja. Aku akan selalu berada di sampingmu. Sebab kutahu pasti kau ini selalu butuh persekawanan. Sedang kini hanya akulah satu-satunya persekawananmu yang tersisa,” ucap Gelung sembari beranjak mendekati Ling. Setelahnya tubuh mematung Ling Gelung raih, untuk kemudian berpeluk. Jubah lebar tebal Gelung ia bentangkan, dan menutup melindungi tubuh-tubuh mereka yang menyatu dalam peluk.
Sedang dari ufuk barat. Badai mengamuk kian mendekat hendak melahap dua tubuh manusia kecil di tengah gurun tak bertepi. Selayak ombak bergulun meninggi pelahap kapal badai itu. Liukan dan gulungan angin yang berjubahkan debu pasir itu seperti lonceng hari akhir, yang menggema dan gemuruhnya membisingkan telinga.
Sedang mereka yang masih menyatu berpeluk, begitu tenang menghadapi terjangan badai.
Bersambung…………………..  


Di ambil dari salah satu adikarya Maulana Rumi, tokoh sufi, sang pecinta Tuhan melegenda.

Saat ini aku berada dalam sebuah keadaan,
Di mana aku tak bisa membedakan muatan dari keledai.
Aku berada dalam keadaan hari ini,
Di mana aku tak tahu mana duri dan mana mawar
Cintaku membawaku pada keadaan ini saat ini.
Aku tak tahu siapa Pecinta
Atau siapa yang dicinta.
Kemarin, kemabukan mengantarkanku ke pintu cinta
Tetapi sekarang tak kutemukan pintu atau rumah itu.
Tahun lalu aku punya dua sayap.
Kecemasan dan harapan.
Sekarang, aku tak tahu sayap-sayap itu,
Tak tahu bagaimana caranya terbang.
Tak tahu kecemasan-kecemasan yang telah hilang.

Aktualita PMII



            PMII merupakan salah satu organisasi ekstra kampus yang ada di Indonesia. PMII tersebar di seluruh nusantara yang mempunyai struktur kepengurusan dari masing–masing Universitas, kabupaten, provinsi dan nasional. Dengan jaringan yang menusantara ini maka sudah pasti PMII merupakan organisasi yang besar. PMII adalah kepanjangan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang mempunyai filosofi bahwa PMII merupakan suatu wadah bagi mahasiswa yang selalu berpikir aktif, terus belajar, dan bersifat dinamis sesuai tantangan jaman. PMII mempunyai frame kegamaan Islam ke-Indonesian yang mempunyai landasan Ahlussunah wal jma’ah sebagai Manhaj Al-Fikr atau kerangka berfikir yang mempunyai prinsif tawassuth (Moderat), tawazun (Keseimbangan), tasamuh ( toleransi ) dan  ta’adul (Keadilan).
            Secara historis PMII mempunyai usia setengah abad yang lahir pada tanggal 17 april 1960. Lahirnya PMII menjadi suatu kebutuhan untuk menjawab tantangan jaman sesuai dengan AD/ART BAB IV Pasal 4 adalah terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjungkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

            PMII di purwokerto terdiri dari satu pengurus cabang dan tiga pengurus komisariat yaitu Komisariat Walisongo (STAIN), Komisariat Soedirman (UNSOED), dan Komisariat Dukuhwaluh (UMP). Khususnya PMII Dukuhwaluh sekarang telah menginjak usia satu dasawarsa, seiring menuanya usia maka PMII Komisariat Dukuhwaluh berkomitmen untuk mencetak kader-kader muda penerus bangsa yang cinta Indonesia berlandaskan ketaqwaan terhadap tuhan YME. Dalam perjalananya, PMII Komisariat Dukuhwaluh melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif sebagai salah satu bentuk implementasi nilai-nilai Ke-PMII-an yaitu dengan melakukan aksi-aksi sosial, menyelengarakan diskusi rutin, melakukan pengkayaan wacana, serta melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bernilai keagamaan secara mahdloh ataupun ghoiru magdloh.
            Salah satu kegiatan penting yang baru saja dilaksanakan satu bulan yang lalu oleh PMII Komisariat Dukuhwaluh merupakan proses regenerasi dalam strukturalnya. Dilantiknya pengurus baru PMII Komisariat Dukuhwaluh masa khidmat 2011 – 2012 menjadi titik awal pergerakan sahabat – sahabati untuk meningkatkan kualitas kader sesuai visi dan misi PMII dan melakukan transformasi wacana di kalangan kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Di tingkat fakultas, dilantik pula Agus Prasetyo sebagai ketua beserta jajaran pengurus PMII Rayon Siti Nafisah yang mempunyai ruang lingkup di FKIP ( Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ). PMII Rayon Siti Nafisah sebagai ujung tombak kaderisasi akan lebih mengarahkan pada wacana pendidikan dan instrument lain yang mendukung terbentuknya pribadi pendidik yang profesional.
            Abdul Mufid sebagai Ketua Umum PMII Komisariat Dukuhwaluh menyatakan bahwa kami ( pengurus ) akan memfasilitasi kader dengan beragam kegiatan untuk meningkatkan intelektual mereka dalam berbagai wacana. Kami juga akan lebih mempublikasikan PMII Komisariat Dukuhwaluh di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan menyelenggarakan kegiatan diskusi di lingkungan kampus dan juga menerbitkan buletin sebagai wahana aktualisasi pemikiran kader. Dua kegiatan ini diharap mampu membuat mahasiswa umum tertarik untuk berproses bersama PMII Komisariat Dukuhwaluh.

Kamis, 18 Agustus 2011

Al Ghazali, sang Hujjatul Islam

by: Alfian Ikhsan


Al-Ghazali  bernama lengkap Abu Hamid Muhammad ibnu Ahmad Al-Ghazali Al-Thusi. Beliau dilahirkan pada tahun 450 H / 1058 M di Ghazal, Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Iran. Beliau dilahirkan dari keluarga yang akrab dengan ilmu tasawuf. Kedua orangtuanya meninggal ketika beliau masih anak-anak. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Ahmad yang juga seorang sufi sederhana.
            Oleh saudaranya, Al-Ghazali dititipkan ke sebuah madrasah milik Yusuf Al-Nasaj. Ini merupakan titik awal perkembangan intelektual dan spiritual beliau. Setelah beberapa tahun beliau berguru kepada Ahmad ibnu Muhammad Al Razakany Al Thusi, selanjutnya ia belajar pula kepada Abu Nashr Al-Ismaily di Jurian dan akhirnya ia masuk ke sekolah Nizhamiyah di Naisabur yang dipimpin oleh Imam Al-Haramain. Dari beliau lah Al-Ghazali belajar tentang ilmu fiqh, ilmu kalam dan ilmu logika. Selain itu, Al-Ghazali juga belajar tentang tasawuf kepada Abu Ali Al-Fadhl ibnu Muhammad ibnu Ali Al-Farmadhi. Sehingga pada usia 25 tahun, beliau telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, dan diangkat menjadi dosen di sekolah Nizhamiyah.
            Beberapa tahun kemudian, Al-Ghazali pindah ke Baghdad. Di sana beliau diangkat sebagai guru besar di sekolah Nizhamiyah Baghdad oleh Nizham Al-Mulk, Perdana Menteri Sultan Bani Saljuk. Di Bagdad nama beliau semakin populer dan halaqah pengajiannya semakin luas. Pada periode ini beliau mengalami krisis yang menyangsikan terhadap semua makrifat, baik yang bersifat empiris maupun rasional. Beliau akhirnya jatuh sakit selama enam bulan, dan dokter tidak mampu mengobatinya. Kemudian beliau meninggalkan semua jabatannya di Baghdad dan mengembara ke Damaskus. Di masjid Damaskus beliau mengisolasi diri untuk beribadah dan berlaku sufistik yang berlangsung selama dua tahun.